Data Scientist, Data Science, Machine Learning, Statistics, Data Science Indonesia, Data Analytics, Data Analysis, Data Analyst, Data, Astronomy, Astronomer, Science, Python, iPython, Jupyter Notebook, R, RStudio, Excel, Coding, Koding, Cara Mengolah Data, Mengolah Data, Olah Data, Programming, Pemrograman, Sains, Teknologi, Ilmu Data, Teknologi Informasi, Tech in Asia, Teknologi, Technology, Sains, Bisnis, Business, Business Analyst, Business Analysis, Social Media Mining, Movie Review, Muhammad Azizul Hakim, Aziz

The Big Short (2015) – A Movie Review from Data Scientist Perspective

“Do you realize what you just did? You just bet against the American economy.”

~ Ben Rickert

Halo semuanya! Bertemu lagi di sesi Intermezzo, yang kali ini masih tentang review film. Kali ini kita akan review tentang film The Big Short (2015), yang memenangkan Academy Awards/Oscar ke-88 pada tahun 2016 silam. 😀

Baca juga sesi Intermezzo sebelumnya. Selamat membaca, dan semoga bermanfaat! 🙂

The Big Short adalah film yang menceritakan tentang krisis finansial Amerika tahun 2007-2008, akibat ledakan pasar rumah dan gelembung kredit rumah (US Housing Bubble). Krisis finansial 2007-2008 menjadi krisis finansial global, dan merupakan krisis finansial terburuk sejak Great Depression tahun 1930an. Film ini diangkat dari buku The Big Short: Inside the Doomsday Machine, yang ditulis oleh Michael Lewis.

Film ini diawali dari Jared Vennet menceritakan sejarah bahwa bankir adalah pekerjaan yang suram hingga tahun 70an. Perubahan diawali oleh Lewis Rainieri dari Salomon Brothers. Rainieri memiliki ide untuk membuat investasi mortgages (investasi kredit rumah, atau obligasi hipotek). Menurut Rainieri, investasi ini untung per itemnya kecil, namun dikarenakan setiap orang ingin memiliki rumah, maka untungnya pun akan melimpah, dan risiko investasi ini rendah pula, karena setiap orang pasti selalu berusaha melunasi hutangnya, karena tidak mau kehilangan tempat tinggal. Bisnis ini mengubah wajah perbankan, menjadi ladang yang amat menguntungkan, namun akan kolaps 30 tahun kemudian (2007-2008).

Data Scientist, Data Science, Machine Learning, Statistics, Data Science Indonesia, Data Analytics, Data Analysis, Data Analyst, Data, Astronomy, Astronomer, Science, Python, iPython, Jupyter Notebook, R, RStudio, Excel, Coding, Koding, Cara Mengolah Data, Mengolah Data, Olah Data, Programming, Pemrograman, Sains, Teknologi, Ilmu Data, Teknologi Informasi, Tech in Asia, Teknologi, Technology, Sains, Bisnis, Business, Business Analyst, Business Analysis, Social Media Mining, Movie Review, Muhammad Azizul Hakim, Aziz
Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi.

Pada review ini, saya membaginya menjadi empat sudut pandang (4 hal utama yang membuat mereka mendapat profit di kala krisis finansial USA 2007-2008), seperti skema di atas.

1. Michael Burry (DATA DRIVEN)

Michael Burry adalah seorang neurolog yang juga bekerja sangat baik dengan angka dan sangat eksentrik. Michael Burry adalah seorang investor, sekaligus pendiri serta pemilik Scion Capital.

Pada tahun 2005, Michael Burry menyelidiki investasi mortgages di Amerika, tidak hanya 20 top selling mortgage bonds (obligasi hipotek), tapi juga hingga ribuan data mengenai investasi tersebut. Michael Burry mulai bertanya-tanya mengenai hal ini, dikarenakan fakta bahwa ketika tech bubble tahun 2001, investasi kredit rumah nilainya malah meningkat, dikarenakan investasi di bidang ini selalu dianggap sebagai investasi yang stabil.

Poin penting dari peran Michael adalah, ia benar-benar memperhatikan ribuan data mortgage tersebut secara seksama, hingga mengetahui banyaknya potensi kecurangan yang menyebabkan ketidakstabilan di dalamnya (disebabkan oleh pinjaman subprime, juga tingginya tingkat orang yang tidak membayar hutang), yang juga diperparah oleh ketidaktahuan banyak orang mengenai hal ini, namun tetap berinvestasi pada obligasi mortgage. Michael meramalkan bahwa hal ini akan menjadi bom waktu yang puncaknya akan terjadi bubble di tahun 2007.

Tidak menyia-nyiakan waktu, Michael melakukan mekanisme credit default swap untuk mortgage, agar ia bisa mulai ‘bertaruh’ di bisnis ini, menggunakan enam prospek mortgage yang telah dirisetnya. Investasi yang dilakukan Michael dan klien-kliennya mencapai $1 miliar. Konflik memuncak ketika menurunnya kepercayaan para investornya, sehingga membuat Michael melarang para investornya untuk menarik uang mereka. Pada akhirnya, prediksi Michael benar, dan nilai firmanya meningkat hingga 489% dengan total profit mencapai $2.69 miliar. Pada akhir film diceritakan Michael menutup Scion Capital miliknya, dan memulai berinvestasi pada air.

 

2. Mark Baum (SKEPTIC DRIVEN)

Mark Baum berdasarkan tokoh nyata bernama Steve Eisman, adalah pemilik dari Front Point Partners, yang memiliki intuisi sangat tajam dalam mengendus ketidakberesan. Diceritakan bahwa Mark Baum adalah orang yang sangat skeptik, teliti, pemarah, benci-namun cinta dengan pekerjaannya. Ditunjukkan juga sejarah masa kecil Baum, yang mempelajari Talmud hingga tuntas, demi menemukan ketidakkonsistenan firman Tuhan, dalam Kitab Tersebut.

Peran Mark Baum dimulai ketika Jared Vennet mempresentasikan mekanisme tranche pada mortgage bonds kepada Baum dan timnya. Penjelasan singkatnya adalah, kredit rumah memiliki rating AAA hingga B, dengan B adalah kredit berisiko tertinggi, sehingga akan menghasilkan keuntungan besar apabila berinvestasi kepadanya, namun tidak ada yang ingin berinvestasi kepadanya disebabkan risikonya yang tinggi. Sehingga, pihak yang menawarkan kredit rating BBB hingga B ini mengakalinya dengan merepackagingnya, atau istilahnya dikenal sebagai Collateralized Debt Obligation (CDO). CDO inilah yang kelak menjadikan krisis obligasi rumah menjadi krisis nasional bahkan internasional.

Poin penting dari peran Mark adalah, dengan nalurinya yang tajam dalam mengendus ketidakberesan, ia mengusut rangkaian kasus penipuan, mulai dari nasabah kredit rumah yang menggunakan identitas palsu, sales dan bankir yang menjual CDO secara besar-besaran, hingga kebohongan dalam pemberian rating kredit oleh badan akreditasi. Dari penyelidikan totalnya, ia mengkonfirmasi kebenaran analisis Michael Burry bahwa krisis finansial akan segera terjadi, dan akan banyak korban yang dirugikan oleh bencana ini.

Secara terpaksa, Mark menyetujui Jared dan ikut berinvestasi dalam mortgage bond, dan pada akhirnya ketika krisis mulai terjadi, dan nilai saham-saham raksasa mulai jatuh, Mark menjual investasi mortgage bagiannya dan firmanya mendapatkan profit $1 miliar.

Danny Moses: “You’re completely sure of the math?”

Jared Vennett: “Look at him, that’s my quant.”

Mark Baum: “Your what?”

Jared Vennett: “My quantitative. My math specialist. Look at him, you notice anything different about him? Look at his face.”

Mark Baum: “That’s pretty racist.”

Jared Vennett: “Look at his eyes, I’ll give you a hint, his name is Yang. He won a national math competition in China he doesn’t even speak English! Yeah I’m sure of the math.”

 

3. Jared Vennet (OPPORTUNITY DRIVEN)

 

Data Scientist, Data Science, Machine Learning, Statistics, Data Science Indonesia, Data Analytics, Data Analysis, Data Analyst, Data, Astronomy, Astronomer, Science, Python, iPython, Jupyter Notebook, R, RStudio, Excel, Coding, Koding, Cara Mengolah Data, Mengolah Data, Olah Data, Programming, Pemrograman, Sains, Teknologi, Ilmu Data, Teknologi Informasi, Tech in Asia, Teknologi, Technology, Sains, Bisnis, Business, Business Analyst, Business Analysis, Social Media Mining, Movie Review, Muhammad Azizul Hakim, Aziz
Sumber Gambar: hollywoodreporter.com.

Jared Vennet berdasarkan tokoh nyata bernama Greg Lippman, yang bekerja di Deutsche Bank. Jared adalah sales yang sangat ahli dalam mengendus peluang, serta ahli dalam networking dan meyakinkan orang. Diceratakan pula bahwa Jared diberi gelar “bubble boy” oleh atasannya, akibat keahliannya tersebut.

Cerita diawali ketika Jared Vennet menyadari analisis Michael Burry, dari transaksi tidak wajar yang dilakukan Burry, yaitu investasi jumlah besar dalam obligasi hipotek, dengan melakukan mekanisme credit default swap (lihat bagian 1).

Poin penting dari peran Jared adalah, kesigapannya dalam menyadari peluang dibalik krisis dari hasil analisis orang lain, dan dengan sigap membangun networking dengan orang yang tepat untuk mengambil keuntungan dari krisis tersebut.

Jared bekerja sama dengan Mark Baum, dan memperoleh keuntungan $47 juta, dari penjualan bagiannya.

“If we’re right, people lose homes. People lose jobs. People lose retirement savings, people lose pensions. You know what I hate about fucking banking? It reduces people to numbers. Here’s a number – every 1% unemployment goes up, 40,000 people die, did you know that?”

~ Ben Rickert

 

4. Ben Rickert (EXPERIENCE DRIVEN) & Brownfield Funds (Charlie Geller dan Jamie Shipley (OPPORTUNITY DRIVEN))

Ben Rickert berdasarkan tokoh nyata bernama Ben Hockett, adalah mantan trader sangat berpengalaman, sekaligus juga seorang yang paranoid. Diceritakan bahwa Ben tidak hanya berpengalaman dalam dunia perbankan, namun juga terampil dalam teknologi, paham pertanian (bahkan memilih untuk bertani sendiri) dan sudah kehilangan kepercayaan pada sistem perbankan.

Peran Ben Rickert dimulai ketika ia dihubungi oleh Charlie Geller dan Jamie Shipley, dua investor muda (pendiri Brownfield Funds) yang secara tidak sengaja menemukan prospek investasi yang dilakukan oleh Jared Vennet, namun membutuhkan ISDA Master Agreement untuk dapat memulai investasi mereka.

Poin penting dari peran Ben adalah, pengalamannya yang luas di dunia trading maupun perbankan memungkinkannya untuk mengkonfirmasi temuan Michael dan Jared dengan cepat, membantu Charlie dan Jamie segera mendapatkan ISDA Master Agreement, dan segera bertindak untuk mendapatkan keuntungan dari krisis 2007-2008.

Mereka bertiga segera mengetahui bahwa U.S. Securities and Exchange Commission tidak memiliki regulasi untuk memonitor aktivitas perdagangan mortgage, bank dan agensi rating kredit juga menjaga nilai CDO mereka agar dapat menjualnya sebelum krisis, dan konsekuensi 1% pengangguran akan menyebabkan kematian 40.000 orang. Dan ketika bencana tersebut mulai terjadi, Ben menjual swap mereka, dan memperoleh profit $80 juta.

Data Scientist, Data Science, Machine Learning, Statistics, Data Science Indonesia, Data Analytics, Data Analysis, Data Analyst, Data, Astronomy, Astronomer, Science, Python, iPython, Jupyter Notebook, R, RStudio, Excel, Coding, Koding, Cara Mengolah Data, Mengolah Data, Olah Data, Programming, Pemrograman, Sains, Teknologi, Ilmu Data, Teknologi Informasi, Tech in Asia, Teknologi, Technology, Sains, Bisnis, Business, Business Analyst, Business Analysis, Social Media Mining, Movie Review, Muhammad Azizul Hakim, Aziz
Sumber Gambar: Wikipedia.

 

Epilog: Krisis ini menyebabkan kerugian $5 triliun uang pensiun dan uang investasi real estate, 401 ribu tabungan dan obligasi. 8 juta orang kehilangan pekerjaan, 6 juta orang kehilangan rumah. Kerugian-kerugian tersebut baru terhitung yang di USA saja.

Namun tahun 2015, bank-bank besar mulai menjual “bespoke tranche opportunity”, atau dengan kata lain, adalah ‘repackaging’ dari CDO.

 

Further Readings

Financial Crisis of 2007–2008.

Great Recession.

IMDB.

The ‘Big Short’ Steve Eisman is now betting against Tesla.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s